Home » Featured, Kiprah Alumni

Mereka Memahami Jihad Secara Literal

Written By: Seblak Magazine on October 2, 2009 No Comment

nur-rofiah1UMAT Islam selalu identik dengan kemunduran, keterbelakangan, dan kemiskinan yang dibentuk oleh budaya Islam dan masyarakat Muslim itu sendiri yang anti?kemajuan. Masalah kemiskinan yang melanda kawasan Islam dan kaum Muslim ini bukan semata?mata masalah kultural, tetapi juga problem struktural (misalnya menyangkut kebijakan ekonomi) di masing?masing negara yang berbasis umat Islam.

Ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kini melanda sebagian besar kaum Muslim disebabkan paradigma yang diterapkan dalam sistem pendidikan masih bersifat atomisme?konservatisme. Paradigma ini mengarah pada pemilahan tegas antara ilmu dan etika, antara agama dan budaya, antara Barat dan Timur, antara pendidikan Islam dan umum.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang sebagian besarnya sangat moderat dan terbuka dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kini mendapat stigma negatif karena sebagian alumni terlibat dalam aksi kekerasan. Mengapa mereka menyatakan bahwa aksi kekerasan yang mengorban jiwa tak berdosa itu sebagai jihad? Berikut petikan wawancara Reporter CMM dengan Dr. Nur Rofiah dari Litbang PP Fatayat NU dan dosen Perguruan Tinggi Ilmu al?Quran (PTIQ) Jakarta:

Salah satu problem umat Islam saat ini adalah ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Anda, kenapa ini terjadi?

Sangat mungkin terjadi karena pada umumnya masyarakat Muslim mengikuti cara pandang al?Ghazali yang membagi ilmu menjadi dua, ilmu dunia dan akhirat. Mempelajari ilmu agama hukumnya fardlu ain sehingga setiap orang harus mempelajarinya, sedangkan hukum mempelajari ilmu dunia hukumnya hanya fardlu kifayah atau cukup diwakili oleh seorang sudah gugurlah kewajiban. Ilmu akhirat bermanfaat di dunia dan akhirat sementara ilmu dunia hanya bermanfaat di dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi tentu dipandang sebagai bagian dari ilmu dunia.

Apakah cara pandang seperti itu ada kaitannya dengan sistem pendidikan Islam saat ini?

Dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi sebetulnya lembaga?lembaga Islam sudah lama melihat pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kembali dipandang penting atau menjadi bagian dari ilmu agama. Lembaga pendidikan Islam di Turki, ilmu pengetahuan dan teknologi justru dipandang lebih penting melebihi ilmu?ilmu agama. Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren sudah lama mengadopsi kurikulum Diknas yang menitikberatkan pada iptek di samping kurikulum agama. Di level perguruan tinggi negeri telah ada lima IAIN yang melakukan konversi menjadi UIN yang berdampak pada pengakuan Iptek sebagai bagian dari ilmu?ilmu keislaman.

Apa yang harus dilakukan untuk mengangkat mutu lembaga pendidikan Islam?

Terbuka terhadap perubahan dan tantangan zaman tanpa harus kehilangan jati diri. Iptek perlu dikuasai tapi tetap kritis dengan cara pandang sekuler yang menjiwai teori?teori Iptek yang pada umumnya lahir di Barat.

Sebagian lembaga pendidikan Islam dicurigai mengajarkan jihad dalam arti perang (kekerasan fisik), mengapa ada penilaian seperti ini?

Faktor eksternal tentu karena ada stigmatisasi terhadap beberapa aksi kekerasan yang diklaim sebagai jihad oleh sekelompok Muslim terutama stigmatisasi melalui media massa. Faktor internalnya adalah karena memang dalam kitab?kitab klasik yang diajarkan di pesantren banyak menjelaskan jihad dalam arti perang. Sayangnya konsep jihad dalam arti perang ini dipahami secara literal tanpa dikaitkan dengan konteksnya. Penting untuk dicatat di sini bahwa kitab?kitab tersebut sudah lama dipelajari oleh santri tanpa mendorong mereka untuk melakukan kekerasan di wilayah publik hingga munculnya kasus pemboman di berbagai tempat.

Aksi-aksi kekerasan yang terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, menyebabkan banyak kalangan, khususnya Barat mengindentikan Islam dengan kekerasan, mengapa terjadi demikian?

Sebetulnya kekerasan dilakukan juga terhadap kelompok Muslim di beberapa Negara di mana mereka menjadi minoritas. Tetapi media elektronik maupun cetak tidak memberitakan segencar ketika pelakunya Muslim. Artinya, pemberitaan tersebut tidak seimbang dan menyudutkan kelompok Muslim.

Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi invasi peradaban Barat?

Pertama, menjadi diri sendiri dengan berbagai kearifan lokalnya. Islam tidak identik dengan Arab sebagaimana modernitas tidak identik dengan westernisme (Barat). Kedua, terbuka terhadap peradaban luar mana pun termasuk Barat tanpa harus mengorbankan jati diri.

Apakah itu berarti bahwa negara yang mayoritas penduduk Muslim tidak menjamin menunjukkan wajah Islamnya?

Wajah Islam adalah sesuatu yang memerlukan proses terus?menerus. Misalnya nilai?nilai etik seperti kejujuran, disiplin, dan taat hukum tidak memadai sebagai parameter “wajah Islam”. Satu hal lagi yang penting adalah bahwa Islam selalu berada dalam wilayah tafsir sehingga pertanyaan: Islam menurut siapa?

Benarkah pemikiran bahwa untuk bisa maju umat Islam harus meninggalkan ajaran Islam itu sendiri?

Betul, jika yang dimaksud adalah ajaran Islam yang jumud. Tapi tidak betul jika yang dimaksud adalah keseluruhan ajaran Islam. Toh masih banyak ajaran Islam yang mendorong umat Islam untuk maju. Jika umat Islam harus meninggalkan ajaran Islam secara keseluruhan, tentu mereka kehilangan jati diri. Yang perlu ditinggalkan adalah cara menghayati ajaran Islam di mana seluruh tafsir atas Islam/ajaran Islam dipandang sebagai sesuatu yang suci. (CMM)

Sumber: Bernas, Sabtu, 12 Sep 2009 09:28:11

Tags: , , ,

Digg this!Add to del.icio.us!Stumble this!Add to Techorati!Share on Facebook!Seed Newsvine!Reddit!Add to Yahoo!

Leave a Reply:

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  Copyright ©2009 Seblak Magazine, All rights reserved.| Powered by WordPress| Gandhi theme by Techblissonline.com