Internet: Positif atau Negatif ya?
Bener gak sich internet selalu identik dengan hal negatif? Bagi sebagian orang, anggapan itu mungkin ada benarnya. Tapi, tidak semua orang sependapat lho dengan anggapan itu.
Simak aja komentar Imam Habibiansyah, siswa Kelas X Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak, Jombang. “Kalo dibilang internet itu negatif, nggak juga sih. Nilai positifnya juga banyak kok,” tuturnya kepada Pena Seblak.
Sobat kita yang baru terpilih sebagai Ketua OSIS ini mencontohkan, banyak buku dan kitab referensi yang bisa diunduh dari internet. “Kita juga bisa jadi lebih gaul, cepat mengikuti perkembangan informasi terkini,” imbuhnya. Bener gak sich internet selalu identik dengan hal negatif? Bagi sebagian orang, anggapan itu mungkin ada benarnya. Tapi, tidak semua orang sependapat lho dengan anggapan itu.
Simak aja komentar Imam Habibiansyah, siswa Kelas X Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak, Jombang. “Kalo dibilang internet itu negatif, nggak juga sih. Nilai positifnya juga banyak kok,” tuturnya kepada Pena Seblak.
Sobat kita yang baru terpilih sebagai Ketua OSIS ini mencontohkan, banyak buku dan kitab referensi yang bisa diunduh dari internet. “Kita juga bisa jadi lebih gaul, cepat mengikuti perkembangan informasi terkini,” imbuhnya.
“Yang lebih penting lagi nih, hemat di kocek, hahaha” sela Iqbal Prasetyo, karib Imam yang menjadi Sekretaris OSIS. Sobat kita yang satu ini punya itung-itungan sederhana untuk komentarnya itu.
“Dengan internet, kamu bisa membaca berita dari puluhan koran sekaligus. Hayo, kebayang nggak jika kamu harus beli semua koran itu setiap hari,?” tanya dia.
Tapi, omong-omong, betul nggak sich internet juga punya sisi negatif? “Internet itu ibarat dunia yang dilipat. Jadi, selain nilai positif, dampak negatifnya juga ada. Bahkan, tidak sedikit,” tutur Ustadz Ahmad Jasminto, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Plus Khoiriyah Hasyim.
Lebih dari itu, internet juga seperti pisau. Kalau sebuah pisau digunakan untuk menyembelih hewan kurban, artinya ia membantu kita menjalankan ibadah. “Tapi kalau dipakai melukai orang, selain berdosa, juga akan merugikan orang lain,” tandasnya.
Waaah… betul juga ya? Terus, kalau begitu, bagaimana cara meminimalkan dampak negatif itu? “Kunci utama dalam pemanfaatan internet terletak pada kesadaran individu. Jadi, bergantung motivasi penggunanya juga,” ungkap Pak Jas membeberkan kiatnya.
Pak guru yang dijuluki Pakar IT Seblak ini menambahkan, kalau niat awal penggunanya sudah keliru, hampir pasti akan terjerumus kepada “sisi hitam” internet. Yang sederhana, ya, kecanduan online game atau chatting. Paling parah kalau kecanduan mengakses situs porno.
“Tapi, dengan di-install perangkat lunak tertentu, dampak negatif tersebut dapat disaring kok. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir,” jelasnya. Akses internet yang tersaring itu akan membuat para remaja dapat mengakses internet secara sehat.
Chatting Tapi Ilmiah, Kebayang Nggak?
Bingung nggak kalian ketika membaca judul berita di atas? Masak sih ada orang chatting, tapi ilmiah? Seperti apa ya wujudnya?
Aneh tapi nyata, tapi itulah yang terjadi dengan program teleconference pendidikan Gerakan 1000 Guru yang diadopsi MASS Khoiriyah Hasyim Seblak sejak akhir November lalu. Jika dicermati, teknologi yang digunakan dalam program ini adalah perangkat lunak yang biasa digunakan anak-anak muda untuk chatting.
Bedanya, tema obrolan dalam kegiatan tersebut difokuskan pada pengayaan materi pelajaran. Jadinya ya seperti judul di atas, chatting tapi ilmiah. Bukan sekadar ngobrol ngalor-ngidul yang menghabiskan energi tapi tidak jelas juntrungnya.
“Sebenarnya, semua sekolah yang telah memiliki akses internet pita lebar (broadband internet acces) dapat mengadopsi program ini,” ujar Jasminto. Dengan sebuah komputer yang terhubung internet, sebuah webcam, dan proyektor, program tersebut sudah dapat diikuti seluruh siswa.
Kok bisa? Ya bisa lah, masak ya bisa dong, hehe. “Setelah semua perangkat keras tersebut tersedia, pihak sekolah tinggal bergabung dengan Gerakan 1000 Guru dan memilih guru relawan dan materi yang diminati siswa,” bebernya.
Lalu, apa sih manfaat program ini bagi siswa? “Menurut aku, dengan diajar guru relawan, kita jadi bisa bertukar pikiran dan pengalaman dengan mereka yang tinggal di luar negeri”, ujar Fitri, siswi Kelas XI MASS Seblak.
Tapi, Fitri buru-buru menambahkan, bahwa ada juga yang tidak ia sukai dari kegiatan tersebut. “Paling sebel kalau kita sedang asyik mendengarkan pemaparan guru relawan, tiba-tiba jaringan internetnya mengalami gangguan. Konsentrasi kita langsung buyar deh”, ujarnya ketus.
Lain lagi komentar Arini, siswi Kelas XI SMA A Wahid Hasyim Tebuireng. “Menurut saya, teleconference yang menghadirkan guru relawan dari profesional dari berbagai disiplin ilmu dapat mendorong siswa untuk mempunyai cita-cita yang tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Ayu, siswi Kelas XI MASS Seblak juga mengkhawatirkan dampak negatif pengenalan program ini di kalangan pelajar. “Takutnya, kalau udah kenal ama yang namanya teleconference, terus ada yang menyalahgunakan untuk media hubungan pacaran jarak jauh (HPJJ). ‘Kan jadi pembawa maksiat tuh,” tuturnya mengingatkan.
Wah, kalau sudah begitu, chatting-nya nggak jadi ilmiah lagi dong. Yah, namanya juga internet itu seperti pisau, Mbak. (Kru Pena Seblak)
Kru: Siswa-Siswi Madrasah Aliyah Salafiyah-Syafi’iyah “Khoiriyah Hasyim” Seblak Jombang (Ana, Ella, Fany, Ophi, Shofie)
Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik Koran Sekolah (Ransel) Radar Mojokerto, 19 April 2009
Tags: 1000Guru, internet, teleconference











mmm.. bagus,, bagus..